kita sebebnarnya boleh berbangga karena Indonesia menjadi Negara Asia pertama yang masuk ke piala dunia pada tahun 1938 dengan nama Hindia Belanda karena waktu itu Indonesia masih menjadi Negara jajahan Belanda. Waktu itu Perancis diberi kehorrmatan menjadi tuan rumah piala dunia 1938, Memang tak banyak informasi tentang skuad Hindia Belanda tersebut tapi dari nama-nama pemain yang terdaftar di skuad inti Hindia Belanda adalah nama pribumi atau keturunan Tionghoa. Mereka adalah Sutan Anwar, Tan Djien, Frans Meeng, Jack Sanniels, A Nawir, Tan Mo Heng, Henks Sommers, Suvarte Soedermadji, Tjaak Pattiwael, Frans Hu Kom dan Hans Taihuttu.

Berdasarkan fakta tersebut kita boleh berbangga bahwa setidaknya Indonesia adalah bangsa Asia pertama yang tampil di Piala Dunia meski saat itu masih di bawah bendera Hindia Belanda. Kini, setelah 68 tahun, Indonesia bukannya semakin mendekati Piala Dunia, malah semakin jauh. Ini menunjukkan bahwa prestasi tim nasional Indonesia berjalan di tempat.

Seperti Piala Dunia 1934, format yang digunakan FIFA adalah sistem gugur, di mana tim yang lolos babak kualifikasi awal langsung diundi untuk mendapatkan lawan di parta penyisihan. Partai pembuka di Stadion Parc des Princes, Paris tanggal 4 Juni 1938 mempertemukan Swiss dengan Jerman. Hasil imbang 1-1 hingga babak perpanjangan waktu membuat keduanya harus menjalani partai ulangan yang akhirnya dimenangkan Jerman 4-2.  Hasil serupa juga terjadi saat Kuba ditahan imbang Rumania 3-3. Namun pada partai ulangan Kuba unggul atas Rumania 2-1. Sementara Hindia Belanda yang memulai debut Piala Dunia harus mengakui keperkasaan Hungaria 6-0. Sementara itu, saudara tua Hindia Belanda, Belanda, ditekuk Cekoslowakia 0-3.

Pada pertandingan lain, Brasil mengalahkan Polandia (6-5), Prancis vs Belgia (3-1) serta juara bertahan Italia vs Norwegia 2-1. Di babak perempatfinal terjadi dua partai menarik dimana runner-up Piala Dunia 1934, Cekoslowakia berhadapan dengan Brasil yang tampil buas dengan bintang mereka Leonidas. Sementara tuan rumah juga mendapat ujian terberat saat menjamu sang juara bertahan Italia. Usai imbang 1-1, Brasil akhirnya memastikan langkah ke semifinal karena di partai ulangan mereka unggul 2-1 atas Cekoslowakia. Sedangkan Italia berada di jalur juara dengan mengatasi Prancis 3-1.  Sayang kedua tim unggulan itu harus berjumpa di semifinal. Kala itu Italia mampu menghentikan Brasil dengan skor 2-1. Akhirnya Itali berhasil menjadi juara untuk kedua kalinya dengan bintang mereka Giuseppe Meazza.

Kita berhak bangga Indonesia menjadi team asia pertama yang masuk piala dunia, namun sampai sekarang Indonesia hanya masih menjadi penonton, dan sekarang banyak Negara Asia yng tlah berparisipasi di kancah Piala dunia dari Jepang sampai Arab Saudi, sampai kapan kita bisa merasakan euphoria piala dunia dengan memakai nama Indonesia secara utuh.

*sumber: www.sinarharapan.co.id/berita/0604/08/ola12.html.

Health according to in [Code/Law] of no. 9 year 1960, concerning specifics. Chapter 1 is section 2 defined as follows: ” the concerned health in this [/code] is activity covering health of body, rohani(mental), and social not merely situation which free from disease, defect, and weakness”. Health staying in individual x’self / group do not miss from attention in consequence become factor off is continuity of human life, usually individual**individual lengthen life somewhere which that reside in different environment, become environmental influence very Essensial for health of human being. In his bearing, health problem and environment there [is] problem segelintir which need careful that is problem of gizi [at] individual. [At] Global era in this time need careful [at] area in Indonesia Specially.

Basically environment staying in human being scope very human life aspect, hence needing careful that good environment mean mengiindikasikan that the health of good also, as well as indication [at] gizi the goodness. Factor influencing him also a lot most is from foods. Food are the source of energi of[is single for human being ( Soemirat,1994). Because amount residents of yan continue to expand, hence amount produce makananpun have to continue to increase to exceed the amount of this residentses, if sufficiency of food have to reach. Problems of arising out can be resulted caused by food materials amount and quality, this matter have an eye to to get energi [so that/ to be] remain to live on and not to become pain hence. Thereby food sanitasi become of vital importance. Problem of gizi is trouble [at] some individual prosperity facets and or society which because of [do] not be fufilled [by] requirement him of obtained gizi of food ( Soekirman,1999).

Keyword: Healt, Environment, Nurtrient

RINGKASAN

Kesehatan menurut dalam Undang-undang no. 9 tahun 1960, tentang pokok-pokok. Bab 1 pasal 2 didefinisikan sebagai berikut: “yang dimaksud dengan kesehatan dalam undang-undang ini adalah kegiatan yang meliputi kesehatan badan, rohani(mental), dan sosial bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan”. Kesehatan yang berada dalam diri individu/kelompok tak luput dari perhatian karena itu menjadi faktor kelangsungan hidup manusia, biasanya individu melangsungkan hidup di suatu tempat yang mana itu berada di lingkungan yang berbeda, jadi pengaruh lingkungan yang sangat Essensial bagi kesehatan manusia. Dalam kaitannya,  masalah kesehatan dan lingkungan ada segelintir masalah yang perlu dicermati yaitu masalah gizi pada individu. Pada era Global saat ini perlu dicermati pada daerah di Indonesia Khususnya.

Pada dasarnya lingkungan yang berada dalam ruang lingkup manusia sangat berperan dalam aspek kehidupan manusia, maka perlu dicermati bahwa lingkungan yang baik berarti mengiindikasikan bahwa kesehatannya juga baik, dan juga mengindikasikan pada gizi yang baik. Faktor yang mempengaruhinya juga banyak yang paling sering adalah dari makanan. Makanan adalah sumber energi satu-satunya bagi manusia (Soemirat,1994). Karena jumlah penduduk yan terus berkembang, maka jumlah produksi makananpun harus terus bertambah melebihi jumlah penduduk ini, apabila kecukupan pangan harus tercapai. Permasalahan yang timbul dapat diakibatkan karena ada kualitas dan kuantitas bahan pangan, hal ini bermaksud untuk mendapatkan energi agar tetap bertahan hidup dan tidak untuk menjadi sakit karenanya. Dengan demikian sanitasi makanan menjadi sangat penting. Masalah gizi adalah gangguan pada beberapa segi kesejahteraan perorangan dan atau masyarakat yang disebabkan oleh tidak terpenuhinya kebutuhan akan gizi yang diperoleh dari makanan (Soekirman,1999).

Kata Pengantar

Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan berkat, rahmat, serta hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah akhir sebagai pemenuhan tugas akhir mata kuliah Berfikir dan Menulis Ilmiah ini dengan baik.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada para pembimbing akademik khususnya matakuliah Berfikir dan Menulis Ilmiah, yakni: DR. Ekawati S. Wahyuni, DR. Pudjie Muljono, Ratri Vitrianita, S.sos, M.Si, serta Martua Sihaloho, SP., Msi., juga kepada asisten dosen yang senantiasa membimbing di setiap perkembangan makalah ini, Diah Ita. M. serta semua pihak yang sangat berperan mendukung kelangsungan makalah ini.

Makalah yang berjudul “Pengaruh Kesehatan Lingkungan Terhadap Gizi       pada Masyarakat di Era Globalisasi” ini disusun selain karena tuntutan tugas akhir juga penulis ingin mengetahui seberapa berpengaruhkah lingkungan terhadap kesehatan dan apa hubungannya dengan gizi khususnya di Indonesia. Dan penulis juga bermaksud untuk mengetahui dampak dari permasalahan gizi buruk di Indonesia.

Penulis mengakui masih banyak terdapat kesalahan dalam penyusunan makalah ini. untuk itu penulis meminta maaf atas segala kekurangan dalam makalah ini. Dan diharapkan dapat berguna untuk semua orang dan menjadikan pengetahuan baru.

Bogor, Januari 2010

Penulis

DAFTAR ISI

Abstrak ………………………………………………………………………………………..

Ringkasan  ………………………………………………………………………………………………..

Kata Pengantar  ………………………………………………………………………………………….

Daftar Isi  ……………………………………………………………………………………………………….

Daftar Tabel  ………………………………………………………………………………………………….

BAB I Pendahuluan …………………………………………………………………………………… 1

1.1. Latar Belakang ………………………………………………………………………… 1-2

1.2. Perumusan Masalah …………………………………………………………………… 2

1.3. Tujuan ……………………………………………………………………………………… 2

1.4. Manfaat ……………………………………………………………………………………. 2

BAB II Pembahasan ………………………………………………………………………………….. 3

II.I. Pengaruh Manusia Terhadap Lingkungan dan sebaliknya……………………..   3-4

II.2. Pengaruh Lingkungan Terhadap Kesehatan. ………………………………………….4-5

II.3. Lingkungan Makanan yang Berdampak Pada Kelangsungan Gizi Manusia..5-6

II.4. Perkembangan Masalah Gizi. ………………………………………………………………6-7

BAB III. Kesimpulan dan Saran…………………………………………………………………..8

III.1. Kesimpulan…………………………………………………………………………….8

III.2. Saran……………………………………………………………………………………..8

Daftar Pustaka …………………………………………………………………………………………..9

Daftar Tabel

Table Pengertian Indikator Status Gizi …………………………………….. 7

PENDAHULUAN

I.I. Latar Belakang.

Kesehatan menurut dalam Undang-undang no. 9 tahun 1960, tentang pokok-pokok. Bab 1 pasal 2 didefinisikan sebagai berikut: “yang dimaksud dengan kesehatan dalam undang-undang ini adalah kegiatan yang meliputi kesehatan badan, rohani(mental), dan sosial bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan”.

Namun istilah ini sedikit berubah didalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan Bab 1 pasal 1 sebagai berikut: “Kesehatan adalah sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan orang hidup produktif secara sosial ekonomis”. Kedua definisi tersebut, diatas memberi arti yang luas pada kata kesehatan. Bedasarkan definisi tersebut, seseorang belum dianggap sehat sekali pun ia tak berpenyakit jiwa dan ataupun raga, hal ini dianggap perlu karena penyakit yang diderita seseorang/sekelompok masyarakat umumnya ditentukan sekali oleh perilakunya/keadaan sosial budayanya  yang tidak sehat (Soemirat,1994).

implikasi definisi tersebut pun sangat besar. Pekerjaan bidang kesehatan menjadi sangat luas. Ia berada dari ilmu kedokteran pencegahaan yang terutama ditujukan kesehatan perseorangan. Kesehatan yang berada dalam diri individu/kelompok tak luput dari perhatian karena itu menjadi faktor kelangsungan hidup manusia, biasanya individu melangsungkan hidup di suatu tempat yang mana itu berada di lingkungan yang berbeda, jadi pengaruh lingkungan yang sangat Essensial bagi kesehatan manusia.

Seperti telah diuraikan terdahulu, usaha kesehatan lingkungan merupakan salah satu usaha dari enam usaha dasar kesehatan masyrakat. Dari uraian tentang usaha dasar terlihat bahwa kesehatan lingkunganpun erat sekali hubunganya dengan usaha kesehatan lainnya. Usaha ini merupakan usaha yang perlu didukung oleh ahli rekayasa secara umum dan secara khusus oleh ahli rekayasa lainnya. Ini di utarakan Victor M. Ehlers dan and Ernest W. Steel dalam bukunya yang berjudul “ Munipical and Rural Sanitation” terbitan McGraw-Hill Book Co.1969.[1]

Dalam kaitannya,  masalah kesehatan dan lingkungan ada segelintir masalah yang perlu dicermati yaitu masalah gizi pada individu. Pada era Global saat ini perlu dicermati pada daerah di Indonesia Khususnya. Dengan berkembangnya ilmu gizi dan perubahan pola makan serta gaya hidup pada tahun 1980-an terjadi transisi pola masalah gizi dari masalah gizi kurang ke masalah gizi lebih. Di negara berkembang khususnya Indonesia masa transisi ini oleh Soekarman (1991) disebutnya masalah gizi ganda.strategi perubahan dalam masalah ini perlu memerlikan penyesuaian, dimana di amerika pada tahun 1980 ada yang namanya Pedoman Gizi Seimbang yang mana ditujukan untuk pengelompokan makanan dalam asupan untuk gizi masyarakat yang ada di Amerika Serikat.

I.2. Perumusan Masalah

  • Pengaruh Manusia terhadap Lingkunganya dan sebaliknya.
  • Pengaruh Lingkungan terhadap Kesehatan.
  • Lingkungan makanan yang berdampak pada kelangsungan gizi manusia.

I.3. Tujuan

Tujuan dibuatnya makalah ini untuk mengetahui seberapa pentingkah lingkungan dalam kesehatan dan bagaimana hubungannya dengan gizi pada individu/kelompok dalam masyarakat di era Globalisasi ini dan apakah adakah masalah dalam kelangsungan asupan gizi di negara berkembang seperti di Indonesia ini.

I.4. Manfaat

Manfaat dibuatnya makalah ini adalah supaya para pembaca menyadari pentingnya kondisi lingkungan yang bisa mempengaruhi kesehatan dan masalah gizi yang bisa mengganggu kelangsungan hidup manusia jika tak cepat disadari lebih jauh. dan manfaat lain dari makalah ini adalah pembaca dapat mengetahui lingkungan bisa berpengengaruh terhadap gizi pada individu.

BAB II. PEMBAHASAN

II.I. Pengaruh Manusia Terhadap Lingkungan dan sebaliknya

Kemapuan manusia untuk mengubah atau memodifikasi kualitas lingkunganya tergantung sekali pada taraf sosial budayanya (Soemirat, 1994). Masyarakat jaman dulu yang tinggal di hutan dan lahan berpindah hanya mampu membuka hutan yang mereka tinggali untuk memberikan perlindungan pada kelangsungan hidup mereka tersebut, beda halnya dengan masyarakat modern yang sosial ekonomi lebih maju seperti halnya kita sekarang ini bisa mengubah apa saja sesuai kehendak yang kita mau seperti hutan dijadikan perumahan atau sebuah daerah tempat tinggal.

Perubahan lingkungan hidup seperti diatas itu dengan tujuan memperbaiki nasib manusia tidak selalu berhasil dengan baik jika kita tidak melihat bagaiman proses-proses itu berlangsung. Proses-proses itu terjadi dalam ekosistem yang mengikuti perubahan-perubahan tersebut. Apabila perubahan lingkungan sedemikian rupa sampai terjadi pergeseran Ekosistem maka alam tidak dapat lagi memepertahankan keseimbangannya, maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti tanah longsor, banjir, gunung meletus itu semua bisa merugikan kita bersama.

Manusia sebagai makhluk hidup selain mendayagunakan unsur-unsur dari alam, mereka juga menbuang kembali apa yang telah ,mereka gunakan yang tidak dipakainya lagi kembali ke alam. Hal semacam tersebut bisa berdampak buruk terhadap manusia apabila jumlah buangan bertambah banyak sehingga alam pun tidak dapat lagi membersihkannya lagi, lalu dengan demikian lingkungan yang ada di lingkungan bisa kotor dan sumber daya alam yang biasa kita gunakan menjadi kotor dan bisa berdampak buruk jika kita menggunakannya. Akibatnya kesehatan manusia akan terganggu, jadi jelas bisa dilihat bahwa kelangsungan hidup manusia sangat tergantung pada adanya interaksi dalam ekositem.

Pada jaman dahulu banyak menunjukan adanya kurang pengertian masyarakat akan hubungan interaksi manusia dengan lingkunganya ini dan kurangnya pengertian tentang sifat-sifat manusia itu sendiri yang dapat menyebabkan bencana alam terjadi. Manusia sebagai makhluk yang berbudaya dimana manusia akan membutuhkan akan kekuasaan, kekayaan, pengetahuan, serta kepuasaan yang berkembang secara kontinyu, lain halnya dengan kedudukan manusia sebagai makhluk biologis yang mana membutuhkan makan dan minum dengan sendirinya hubungan manusia sebagai makhluk berbudaya dengan makhluk biologis sangat berpengaruh dengan adanya keinginan kebutuhan kekuasaan yang bisa menimbulkan kerusakan ekosistem dan dapat mengganggu kelangsungan hidup manusia dalam mencari sumber daya alam dalam memperoleh makanan dan minuman.

Pencemaran lingkungan yan halnya dilakukan oleh manusia tidak diperhatikan maka  akan terjadi penurunan kesehatan pada masyarakat, oleh karena itu usaha di bidang kesehatan perlu didasarkan akan pengetahuan ekologi manusia. Adapun pengertian ekologi manusia adalah ilmu yang mempelajari antara setiap segi kehidupan manusia (fisik, mental, sosial) dengan lingkungan hidupnya ( biofisis, psikososial) secara keseluruhan dan bersifat sintesis (Boughey, 1973). Menurut Soemirat,(1994) dalam bukunya dijelaskan bahwa hubunan ekologi manusia dengan usaha kesehatan lingkungan dapat dianalogikan dengan hubungan antara ekologi dengan pertanian, kehutanan, dan sebagainya, sebagai contoh, ekologi manusia diterapkan dalam berbagai bidang kesehatan sebagai berikut, dalam ilmu kedokteran pencegahan, meningkatkan daya tahan manusia tehadap faktor disgenik. Dalam ilmu kesehatan meningkatkan faktor menguntungkan dan mengurangi pengaruh faktor merugikan.

II.2. Pengaruh Lingkungan Terhadap Kesehatan.

Perkembangan epidemologi menggambarkan secara spesifik peran lingkungan dalam terjadinya penyakit dan wabah. Bahwasanya lingkungan berpengaruh pada terjadinya penyakit sudah sejak lama diperkirakan orang (Fox, 1960) yang dikutip oleh Soemirat dalam bukunya. Kita bisa ambil contoh pada daerah lembab dan banyak genangan air di sekitar kita pasti ada tempat berkembang biak nyamuk baik itu berpotensi menyebabkan penyakt malaria maupun demam berdarah, disitulah letak penyakit bisa muncul karena lingkungannya tidak baik dan tidak bersih. Dalam konteks makanan yang kita makan banyak pedagang kaki lima yang berjualan tidak mengkondisikan dengan lingkungannya sehingga tak jarang pula setelah memakan di tempat yang seperti itu bisa menimbulkan sakit perut.

Seorang tokoh kedokteran, Hippocrates (460-377), adalah tokoh pertama-tama berpendapat bahwa penyakit itu ada hubungan dengan fenomena alam dan lingkungannya. Dilihat dari segi ilmu kesehatan lingkungan, penyakit terjadi karena adanya interaksi antara manusia dengan lingkungan hidupnya. Ilmu yang mempelajari proses interakasi in disebut Ekologi dan secara khusus Ekologi Manusia, apabila perhatian studi itu adalah manusia (Boughey, 1973). Interaksi antara manusia dan lingkungannya sangatlah wajar mengingat bahwa manusia hidup berada dalam ekosistem yang mengharuskannya berinteraksi dengan lingkungan sampai meninggal dunia.

Hal ini disebabkan karena manusia memerlukan daya pendukung unsur-unsur lingkungan untuk kelangsungan hidupnya. Unsur udara, air, makanan, dan sandang yang diambil dari lingkungan hidupnya, namun proses interaks itu tak selalu medapatkan keuntungan, bahkan kadang-kadang bisa mendapatkan kerugian, sebagai contoh jka manusia makan dan minum untuk menghilangkan rasa haus dan lapar namun jika terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat menimbulkan kelainan nutrisi, begitu juga jika makan tersebut mengandung zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan. Zat-zat tersebut dapat berupa racu asli ataupun akibat kontaminasi makanan tersebut dengan zat kimia yang berbahaya sehingga dapat terjadi keracunan atau penyakit.

II.3. Lingkungan Makanan yang Berdampak Pada Kelangsungan Gizi Manusia.

Makanan adalah sumber energi satu-satunya bagi manusia (Soemirat,1994). Karena jumlah penduduk yan terus berkembang, maka jumlah produksi makananpun harus terus bertambah melebihi jumlah penduduk ini, apabila kecukupan pangan harus tercapai. Permasalahan yang timbul dapat diakibatkan karena ada kualitas dan kuantitas bahan pangan, hal ini bermaksud untuk mendapatkan energi agar tetap bertahan hidup dan tidak untuk menjadi sakit karenanya. Dengan demikian sanitasi makanan menjadi sangat penting.

Jika dilihat dari kuantitas, baik yang berlebih maupun yang kekurangan akan menyebabkan kelainan gizi. Penyakit yang berhubungan dengan kegemukan disebabkan oleh jumlah makanan yang berlebih, juga kualitas nyayang tidak seimbang contohnya penyakit Jantung, Diabetes, dan penyakit Darah Tinggi, demikian pula kekurangan gizi, ada yang hanya kekurangan kuantitas makanan saja, tapi juga seringkali kualitasnya kurang. Di Indonesia sebagaian besar penyakit yang didapat berhubungan dengan kekurangan gizi, terutama pada anak-anak. Taraf kekurangan gizi pada balita di Indonesia untuk tahun 1988 kurang lebih 10%[2]. Menurut Soemirat, Keadaan kurang gizi juga sangat dipengaruhi oleh:

  • Pengetahuan masyarakat tentang yang kurang, berbagai kepercayaan tentang makanan, sehingga anak-anak tidak mendapatkan makanan yang bergizi.
  • Kontaminasi makanan dan minuman bayi akibat lingkungan yang tidak sehat, bayi menderita penyakit bawaan makanan, sehingga pertumbuhan anak terganggu
  • Prioritas hidup lainnya selain makanan bergizi memiliki barang elektronik atau kendaraan bermotor yang membawa akibat luas. Pendapatan tidak lagi di prioritas untuk membeli makanan bergizi.

Makanan tidak saja bermanfaat bagi manusia tetapi juga sangat baik untuk perumbuhan zat-zat lainnya seperti mikroba dalam tubuh, jadi untuk untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal dari makanan, perlu dijaga kebersihan makanan. Gangguan kesehatan terjadi akibat bawaan makanan dan keracunan makanan.

II.4. Perkembangan Masalah Gizi.

Masalah gizi adalah gangguan pada beberapa segi kesejahteraan perorangan dan atau masyarakat yang disebabkan oleh tidak terpenuhinya kebutuhan akan gizi yang diperoleh dari makanan (Soekirman,1999). Masalah gizi ada dua yaitu masalah gizi makro dan masalah gizi mikro. Masalah gizi makro biasanya zat gizi sumber energi seperti Karbohidrat, Lemak, dan Protein. Dan zat gizi mikro yaitu vitamin dan mineral.

Masalah gizi makro dapat berbentuk gizi dapat berbentuk gizi kurang dan gizi lebih, sedangkan untuk masalah gizi mikro hanya dikenal gizi kurang. Dalam masalah gizi mikro ada istilah yang dikenal dengan KEP ( Kurang Energi Protein), KEP adalah salah satu masalah gizi akibat kurangnya konsumsi makanan yang tidak cukup mengandung energi dan protein serta karena gangguan kesehatan (Soekirman,1999). Jadi untuk mengetahui ada tidaknya KEP perlu dilakukan pengukuran keadaan status gizinya. Ada beberapa cara untuk mengukur status gizi pada anak yaitu pengukuran Antropometrik, pengukuran Klinik dan Laboratik diantara ketiganya antropemetrik adalah yang relatif lebih sederhana (Soekirman, 1999).

Kata antropometrik berasal dari bahasa latin antropos yang berarti manusia. Menurut Microsoft Encarta (1998), pengukuran tubuh manusia dengan antropemetrik dipelopori leh seorang ahli antropologi terkenal di Amerika Serikat bernama Ales Hridlicka (1869-1943), yang pada tahun 1920 menulis buku tentang antropomentrik. Dalam pengukuran antropomentrik dapat dilakukan beberapa pengukuran seperti pengukuran terhadap berat badan (BB), tinggi badan(TB), dan lingkar lengan (Soekirman, 2000). Dibawah ini di jelaskan ada tabel pengertian indikator status gizi dengan berat badan dan tinggi badan yang menjadi tolak ukurnya dan umur yang menjadi pembaginya.

Tabel Pengertian Indikator Status Gizi.

Indikator BB/U Indikator TB/U Indikator BB/TB Kesimpulan
1.Rendah Rendah Normal Keadaan gizi pada anak saat ini baik, tetapi anak tersebut mengalami masalah gizi kronis. BB anak proposional dengan TB nya.
2.Normal Rendah Lebih Anak mengalami masalah gizi kronis dan pada saat ini anak menderita kegemukan karena BB lebih dari proposional terhadap TB nya.
3.Rendah Rendah Rendah Anak mengalami kurang gizi berat dan kronis artinya pada saat ini keadaan gizi pada anak tidak baik dan riwayat masa lalunya juga tidak baik
4.Normal Normal Normal Keadaan gizi anak “baik” pada saat ini dan pada masa lalu.
5.Rendah Normal Rendah Anak mengalami kurang gizi berat (kurus)
6.Normal Normal Rendah Keadaan gizi anak secara umum baik tetapi berat badannya kurang proposional terhadap TB-nya karena tubuh anak jangkung

Dalam tabel diatas bisa dilihat ada beberapa indikator yang bisa dijadikan tolak ukur bagaimana perkembangan gizi pada khusus anak, jika indikator berat badan dan tinggi badan normal maka anak itu bisa di bilang baik dan tidak memiliki kekuragan gizi. Dan disamping ada pembagi yaitu umur yang juga bisa mempengaruhi itu.

BAB III.

KESIMPULAN DAN SARAN

III.1. Kesimpulan

Lingkungan pada sekitar kita turut berandil besar dalam masalah kesehatan, jika dilihat dari apa yang ada dalam pembahsan dalam makalah ini. Lingkungan yang kita ketahui terdapat unsur-unsur yang menjadi sesuatu bahan yang bisa bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia seperti tanah, udara, air. Dari unsur-usur itulah manusia bisa bertahan hidup. Dalam kaitannya dalam kesehatan dijelaskan bahwa lingkungan sangat berpengaruh terhadap kesehatan, dari segi lingkungan sekitar maupun lingkungan makanan yang mana kita konsumsi sehari-hari, berkaitan dengan itu bahwa lingkungan bisa mempengaruhi gizi manusia, jika dilihat dari lingkungan makanannya, makanan sangat penting untuk tubuh karena makanan adalah sumber energi untuk manusia melakukan aktifitasnya, biasaanya manusia mencoba berbagai macam hal, bisa makan ditempat yang lingkungannya tidak higienis contohnya itu bisa menyebabkan penyakit yang bisa menghambat pertumbuhan gizi khususnya pada anak yang sangat rawan jika dikaitkan dengan gizi. Karena pada masa anak-anak adalah dalam masa perkembangan tubuh serta otaknya jika terhambat gizinya maka akan terhambat pula pertumbuhan otaknya.

III.2. Saran

Sebagian besar lingkungan di Indonesia maih jauh dari kata sempurna, dilihat dari susana yang menyelimuti daerah-daerah di Tanah air ini. Disini harus ada perhatian khusus dari Pemerintah dan Individu yang ada dalam sistem yang menyertainya. Lingkungan yang pasti berhubungan langsung dengan kesehatan dan dampaknya langsung terhadap gizi pada Masyarakat. Dan disini penulis juga tak luput dari kurangnya data-data yang bisa menjadikan bahan acuan.

DAFTAR PUSTAKA

Slamet, Juli Soemirat. 1994. Kesehatam lingkungan. Bandung: Gadjah Mada University Press

Soekirman. 1999. Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat. Jakarata: Departemen Pendidikan Nasional

Tarwotjo, Ignatius, dkk.1988. Hubungan Makanan Tercemar Dengan Keadaan Keadaan Gizi. Makalah disajikan pada Workshop on National Food Contamination, Ciloto

Fox, Jhon P. Hall, Carrie E,. Elvebeck, Lila R. 1970 . Epidemology, Man and Diseases. London: Macmillan Pub.Co

Ehlers, Victor M. And Steel, Ernest W. 1969. Municipal and Rural Sanitation. New York: McGraw-Hill Book Co.

Boughey, Arthur, S. 1973. Readings in Man, The Environment, and Human Ecology. New York: Mcmillin Pub. Co.


[1] Yang dikutip oleh juli soemirat slamet: kesehatan lingkungan. Gajah mada university press,Bandung.1994 hal 10

[2] Ignatius Tarwotjo. Hubungan Makanan Tercemar Dengan Keadaan Gizi, disajikan pada workshop on National Food Contamination, 1982

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan berbagai kenikmatan, sehingga aktifitas hidup yang kita jalani ini akan selalu membawa keberkahan, baik kehidupan di alam dunia ini, lebih-lebih  lagi pada kehidupan akhirat kelak, sehingga semua cita-cita serta harapan yang ingin kita capai menjadi lebih mudah dan penuh manfaat. Berkat rahmat dan karunia-NYA yang selalu tercurah sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah akhir dengan judul Hubungan Industrialisasi Dengan Pertumbuhan Ekonomi Pembangunan Daerah Di Propinsi Jawa Barat

Terima kasih sebelum dan sesudahnya penulisi ucapkan kepada  Dosen serta teman-teman sekalian yang telah membantu, baik bantuan berupa moriil maupun materil, sehingga makalah ini terselesaikan  dalam waktu yang telah ditentukan.

Penulis menyadari sekali, didalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan serta banyak kekurangan-kekurangnya, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan dan penyempurnaan di kemudian hari.

Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini adalah, mudah-mudahan apa yang penulis susun ini penuh manfaat, baik untuk pribadi, teman-teman, serta orang lain yang ingin mengambil atau menyempurnakan lagi atau mengambil hikmah dari makalah ini sebagai tambahan dalam menambah referensi yang telah ada.

Bogor, 25 Mei 2010

Penulis

(i)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ………………………………………………………………………(i)

Daftar Isi ……………………………………………………………………………(ii)

BAB I Pendahuluan …………………………………………………………………..1

1.1.   Latar Belakang …………………………………………………….…………1

1.2.   Perumusan Masalah ………………………………………………………….2

1.3.   Tujuan ………………………………………………………………………..2

1.4.   Manfaat ………………………………………………………………………2

BAB II Landasan Teori ………………………………………………………………3

BAB III Metodologi Penelitian ………………………………………………………4

1.

2.

3.

3.1. Jenis dan Sumber Data ……………………………………………………….4

3.2.Analisis Data ………………………………………………………………….4

BAB IV Pembahasan …………………………………………………………………5

1.

2.

3.

4.

4.1. Pertumbuhan Ekonomi di Propinsi Jawa Barat ………………………………5

4.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Propinsi Jawa Barat …………………………………………………………………………..6

4.3. Pengaruh Industrialisasi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Pembangunan di Daerah Propinsi Jawa Barat …………………………………………………..6

BAB V Penutup ………………………………………………………………………7

1

2

3

4

5

5.1  Kesimpulan ……………………………………………………………………7

5.2  Saran ………………………………………………………………………….7

Daftar Pustaka …………………………………………………………………………8

(ii)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Globalisasi telah berdampak besar dalam segala aspek kehidupan. Baik kehidupan sosial, politik, teknologi, pendidikan, budaya, keamanan, dan tentu saja ekonomi. Semuanya seakan-akan ikut maju dan berkembang menyesuaikan perkembangan zaman. Perkembangan tersebut tidak hanya memberikan manfaat pada kehidupan kita sehari-hari, tetapi juga memberikan dampak buruk bagi kehidupan.

Seperti masalah ekonomi yang merupakan pokok masalah yang tiada habisnya. Tidak hanya menjadi masalah nasional di Indonesia saja, tetapi juga menjadi masalah multidimensional global. Perkembangan zaman telah membawa dampak terhadap kemajuan ekonomi , begitu pula dengan masalah pembangunan.

Sekarang ini istilah pembangunan seringkali dikaitkan dengan proses industrialisasi. Dimana pembangunan industri merupakan suatu kegiatan yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yaitu untuk mencapai kualitas kehidupan yang lebih baik. Sehingga pembangunan industri tidak hanya mencapai kegiatan mandiri saja, tetapi mempunyai tujuan pokok untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Keberadaan industri juga sering dikaitkan dengan peranan industri sebagai sektor pemimpin (leading sector), yaitu pembangunan industri dapat memacu dan meningkatkan pembangunan sektor-sektor lainnya seperti sektor perdagangan, pertanian, ataupun sektor jasa (Arsyad, 1999). Berkembangnya sektor-sektor tersebut akan mendukung laju pertumbuhan industri, sehingga menyebabkan meluasnya peluang kerja yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan dan permintaan masyarakat (daya beli). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perekonomian sedang tumbuh dan sehat. Selain itu pembangunan industri juga dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan kemampuannya memanfaatkan sumberdaya secara optimal.

1

Hal ini berarti bahwa pembangunan industri dianggap sebagai usaha untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja manusia yang disertai dengan usaha untuk meluaskan ruang lingkup kegiatan manusia. Aktivitas utama yang paling mempengaruhi tingkat perekonomian dengan studi kasus di propinsi Jawa Barat adalah pertanian dan industri. Kedua sektor tersebut memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB daerah. Hal ini menunjukkan bahwa kedua sektor tersebut memegang peranan penting dalam perkembangan perekonomian daerah dan merupakan potensi yang perlu dikembangkan. Untuk itulah penulis mengangkat masalah tersebut dengan judul “Hubungan Industrialisasi Dengan Pertumbuhan Ekonomi Pembangunan Daerah Di Propinsi Jawa Barat”.

1.2. Perumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

  1. Bagaimana pertumbuhan ekonomi di propinsi Jawa Barat?
  2. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di propinsi Jawa Barat?
  3. Apakah pengaruh industrialisasi terhadap pertumbuhan ekonomi pembangunan di daerah propinsi Jawa Barat?

1.3. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimanakah pertumbuhan ekonomi di propinsi Jawa Barat dan apakah pengaruh industrialisasi terhadap perkembangan ekonomi di daerah propinsi Jawa Barat.

1.4. Manfaat

Manfaat dari makalah ini adalah diharapkan dapat berguna dan menjadi referensi dan menambah pengetahuan serta informasi dalam hubungan industrialisasi terhadap perkembangan ekonomi pembangunan daerah pada khususnya dan untuk para pembaca pada umumnya.

2

BAB II

LANDASAN TEORI

Para ekonom pada dasarnya memberikan pandangan dan pengertian yang sama mengenai pertumbuhan ekonomi yaitu sebagai kenaikan GDP/GNP saja tanpa melihat apakah kenaikkan itu lebih besar atau lebih kecil dari tingkat perumbuhan penduduk atau apakah perubahan sruktur ekonomi terjadi atau tidak (Arsyad, 1999).

Arsyad (1999) mengemukakan sebuah teori Pusat Pertumbuhan (Pole Growth) merupakan teori yang menjadi dasar dari strategi kebijakan pembangunan industri daerah yang banyak terpakai di berbagai negara dewasa ini. Pertumbuhan tidak mnucul di berbagai daerah pada waktu yang bersamaan, pertumbuhan hanya terjadi di beberapa tempat yang disebut  pusat pertumbuhan dengan intensitas yang berbeda. Inti dari teori ini adalah adanya industri unggulan yang merupakan penggerak dalam pembangunan ekonomi daerah. Selanjutnya timbul daerah yang relatif maju akan mempengaruhi daerah-daerah yang relatif pasif.

Simon Kuznets dalam Sukirno, mendefinisikan pertumbuhan ekonomi sebagai peningkatan kemampuan suatu negara untuk menyediakan barang-barang ekonomi bagi penduduknya, pertumbuhan kemampuan ini disebabkan oleh kemajuan teknologi, kelembagaan serta penyesuaian ideologi yang dibutuhkan (Sukirno, 1995).

Keberhasilan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah sangat berkaitan dengan pengelolaan sumber daya yang dimiliki daerah. Oleh karena itu prioritas pembangunan daerah harus sesuai dengan potensi yang dimilikinya, sehingga akan terlihat peranan dari sektor-sektor potensial terhadap pertumbuhan perekonomian daerah, sebagaimana yang diperlihatkan pada perkembangan PDRB dan sektor-sektornya.

3

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Jenis dan Sumber Data

Data yang dipergunakan sebagai bahan analisis berupa data sekunder yang dikumpulkan dari Badan Pusat Statistik. Selain itu data sekunder diperoleh juga dari beberapa hasil penelitian lain yang mempunyai relevansi sama kajian yang dilakukan.

3.2. Analisis Data

Tabel 1: Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Periode Tahun 1993-2006 Propinsi Jawa Barat

Tahun Laju Pertumbuhan Ekonomi (dalam%)
1993 0
1994 7,7815
1995 7,478
1996 9,468
1997 3,664762
1998 -14,1268
1999 1,950491
2000 4,358571
2001 4,755909
2002 1,895909
2003 4,658182
2004 5,064167
2005 4,9604
2006 4,9216
Total 46,83427
Rata-rata 3,345305

Sumber: BPS Jawa Barat                                                                                               4

BAB IV

PEMBAHASAN

1.

2.

3.

4.

4.1. Pertumbuhan Ekonomi di Propinsi Jawa Barat

Ekonomi merupakan nyawa dan menjadi tolak ukur kemajuan serta perkembangan suatu daerah. Dengan melihat pertumbuhan ekonomi suatu daerah menjadi batasan apakah daerah tersebut maju atau tidak. Potensi pertumbuhan ekonomi suatu daerah sebagian besar dipengaruhi oleh sumberdaya fisik (tanah, mineral, dan bahan mentah lainnya) serta sumber daya manusia (baik jumlah maupun tingkat pendidikan).

Sumber daya manusia tidak terbatas pada jumlah dan pendidikannya saja tetapi juga meliputi pandangan kebudayaan mereka, sikap terhadap pekerjaan dan keinginan untuk memperbaiki diri. selanjutnya tingkat kecakapan administratif seringkali menentukan kemampuan sektor pemerintah dalam mengubah struktur produksi dalam waktu yang tepat. Disini seseorang akan terlibat dengan masalah rumitnya hubungan antar kebudayaan, tradisi, agama, kesukuan dan pemecahan atau penyatuan suku. Jadi, bentuk sifat sumberdaya manusia dalam suatu negara merupakan determinan struktur ekonomi yang penting.

Sebagian besar daerah di Indonesia merupakan daerah agraris, pertanian baik untuk keperluan konsumsi sendiri maupun komersial, merupakan aktivitas ekonomi utama ditinjau dari sudut distribusi penggunaan angkatan kerja maupun ditinjau dari proporsi sumbangan dalam GNP. Peranan sektor manufaktur dan jasa setiap daerah juga memperlihatkan perbedaan yang besar. Walaupun terdapat persamaan masalah namun strategi pembangunan setiap daerah berbeda-beda, tergantung kepada sifat alam, struktur dan tingkat saling ketergantungan antara sektor primer (pertanian, kehutanan, perikanan), sektor industri sekunder (umumnya bidang manufaktur) dan sektor industri tersier (perdagangan, keuangan, transportasi dan jasa).

Berdasarkan data yang didapatkan yaitu tabel 1 maka diperoleh bahwa perbedaan laju pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat sebesar 3,34%. Dimana dapat

5

ditarik kesimpulan bahwa meskipun terjadi pertumbuhan ekonomi yang fluktuasi, tetapi keadaan pertumbuhan ekonomi di propinsi Jawa Barat cenderung meningkat.

4.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di Propinsi Jawa Barat

Pertumbuhan ekonomi yang terjadi di propinsi Jawa Barat meskipun fluktuasi, akan tetapi tentunya disebabkan oleh faktor-faktor tertentu. Salah satu faktor yang sangat berperan besar dan berpengaruh adalah industrialisasi. Dengan adanya indutrialisasi di daerah-daerah, meningkatkan juga pembangunan daerah tersebut. Daerah tersebut menjadi lebih menjadi maju, karena adanya industrialisasi yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi pembangunan daerah tersebut. Masuknya teknologi-teknologi baru juga membantu turut serta pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Sebagai contoh pertanian di propinsi Jawa Barat setelah masuknya teknologi baru yang membantu jalannya produksi hasil pertanian jauh lebih produktif dibandingkan dengan produksi menggunakan alat-alat yang tradisional. Dengan itu perekonomian di propinsi Jawa Barat yang mayoritas penduduknya menggantungkan hidupnya pada lahan dan hasil pertanian pun meningkat.

4.3. Pengaruh Industrialisasi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Pembangunan di Daerah Propinsi Jawa Barat

Industrialisasi memberikan dampak dan pengaruh yang sangat besar terhadap jalannya pertumbuhan perekonomian pembangunan daerah di propinsi Jawa Barat. Industri mengalahkan pernyataan yang menyebutkan pengangguran di propinsi Jawa Barat terus meningkat. Sebagai bukti, dengan adanya pembangunan melalui industri-industri di propinsi Jawa Barat memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakat setempat yang belum memiliki pekerjaan. Dengan banyaknya masyarakat yang telah memiliki pekerjaan tetap dan berkurangnya jumlah atau angka pengangguran di propinsi Jawa Barat membuat perekonomian pembangunan di propinsi Jawa Barat pun meningkat.                                                                                                               6

BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Pertumbuhan ekonomi di suatu dareah dapat berbeda dengan daerah yang lainnya. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor, tetapi faktor yang paling berperan besar dalam pertumbuhan ekonomi adalah industrialisasi daerah. Dengan adanya industrialisasi daerah, berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi pembangunan daerah tersebut. Daerah tersebut mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi. Dengan begitu diharapkan industrialisasi di daerah-daerah dapat mengalami kemajuan dan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah tersebut.

5.2. Saran

Industrialisasi suatu daerah pastinya memberikan manfaat dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah tersebut. Tetapi jangan dilupakan bahwa tentu saja menimbulkan dampak negatif karena adanya industrialisasi ini. Untuk itu diharapkan partisipasi semua pihak dalam ikut serta membantu,memperhatikan, dan mengawasi industrialisasi setiap daerah agar tercapainya pertumbuhan ekonomi pembangunan daerah yang lebih baik lagi.

7

DAFTAR PUSTAKA

————. 2005. Pendapatan Regional Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat

Menurut Lapangan Usaha 1995-2004. BPS Provinsi Jawa Barat

————. 2004. PDRB Kabupaten/Kota di Jawa Barat. BPS Provinsi Jawa Barat

Kerjasama dengan Bapeda Provinsi Jawa Barat.

————. 2007. PDRB Kabupaten/Kota di Jawa Barat. BPS Provinsi Jawa Barat

Kerjasama dengan Bapeda Provinsi Jawa Barat.

Anwar, Moh. Arsyad. 1987. Teori Ekonomi dan Kebijaksanaan Pembangunan

dalam Hendra Asmara, Jakarta: PT. Gramedia.

Arsyad, Lincolyn. 1999. Pengantar Perencanaan dan Pembangunan Ekonomi

Daerah. Yogyakarta: BPFE.